Minggu, 09 Desember 2012

Istriku, Kau Wanita yang Sangat Memesona!

Sewaktu saya masih SMP,  sekitar tahun 90-an,  ada satu buku yang sangat menarik perhatian saya.  Buku yang berjudul “Pribadi yang mem(p)esona” karangan La Rose ini,  sudah berkali-kali saya khatamkan, namun saya tidak pernah bosan.  Sekarang, buku itu raib entah ke mana. Terakhir saya membacanya,  beberapa lembaran sudah banyak yang terlepas dan kertasnya pun sudah mulai menguning.




Sedikit saya ulas, mengenai judul buku itu. “Pribadi yang mem(p)esona”, pada huruf P saya beri tanda kurung, sebab menurut kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang benar adalah “memesona”, sama seperti huruf P yang luruh pada kata “memukul”, “mematung”, dan “memikirkan”. Hanya saja kata “memesona” masih kurang familiar dibaca atau didengar, dibanding kata “mempesona”.

Menurut saya, buku itu sangat bagus untuk dinikmati oleh para wanita yang ingin dicintai oleh pasangannya (Suami).  La Rose menulisnya dengan bahasa yang ringan sehingga pembaca tidak bosan untuk membacanya.


Ini salah satu cuplikan yang bikin saya terpesona:


Sesungguhnya setiap orang adalah pribadi yang memesona. Setiap orang punya pesona dalam dirinya sendiri. Pesonanya adalah cahaya mutiara kepribadiannya. Akan tetapi, banyak orang tak sadar akan pesona pribadinya yang tak memancar.


Seperti mutiara, ia terpendam dalam lumpur kehidupan yang bernama kesibukan sehari-hari, ketidakpeduliannya pada lingkungan, pada kekasihnya, juga pada dirinya sendiri.

Atau seperti mutiara, ia lupa mengasah dirinya, hingga pesonanya tak sempat memancar. Atau hanya pudar.


Seperti apa pribadi wanita yang memesona? Apakah ia harus cantik atau seksi?


Orang yang memiliki pribadi memesona adalah orang yang hidupnya bahagia.  Jadi, untuk memiliki pribadi yang memesona orang harus lebih dahulu merasa bahagia. Kebahagiaan akan tercermin pada pribadi yang memancarkan pesona.


Kebanyakan pria terpesona pada sinar mata, senyum yang memberi kesejukan hati dan gerak gerik yang menggetarkan jiwa, bukan pada busana yang dipakai. Umumnya pria memuja perilaku yang lembut, pribadi manis dan penuh kegembiraan dan kemampuan wanita untuk memahaminya.


Pria memebutuhkan teman hidup bukan robot.  Pribahasa Cina mengatakan bahwa wanita yang memesona adalah wanita yang penuh kedewasaan namun memiliki sifat kekanak-kanakan. Wanita dewasa memiliki sikap tenang, dapat menguasai diri, sabar, tulus, berbudi luhur, penuh pengertian, dapat memberi simpati, dan pandai mengelola rumah tangganya. Bersifat kekanak-kanakan, ia seperti anak-anak tidak berdaya yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada suami. Selalu lembut, gembira dan lucu.


Ada satu bab yang sangat berkesan sekali untuk saya. Bab itu menceritakan tentang seorang  suami yang meninggalkan istrinya yang cantik, bertubuh langsing, pintar, dan mandiri. Boleh dikatakan “She is a perfect women”. Tapi, sang suami masih saja tergoda dengan wanita lain. Bahkan wanita pilihannya tidak lebih baik dari pada istrinya. Wanita tersebut usianya lebih tua, lebih jelek,  dan bertubuh tambun. 


Sepertinya,  mirip dengan cerita Lady Diana dan Pangeran Charles ya? Dua sejoli ini, boleh dikatakan sebagai pasangan yang sangat serasi dan dielu-elukan oleh masyarakat dunia.  Kita pun sudah tahu, ending pernikahan dari sang putri  yang terkenal dengan kelembutan hatinya, cantik, pintar,  dan  penuh pesona itu. 


Kandasnya pernikahan antara Putri Lady Diana dan Pangeran Charles disebabkan oleh perselingkuhan antara Pangeran Charles dengan Camilla.   Jika Camilla disandingkan dengan Lady Diana, bak bumi dengan langit. Lady Diana jauh lebih cantik daripada  Camilla tapi, Camilla telah berhasil merebut dan mengisi relung hati Pangeran Charles. Meskipun, pernikahan mereka tidak mendapat restu dari  Ratu Elizabeth. Toh, pernikahan mereka masih langeng sampai sekarang. Wow, Camilla wanita yang memesona bagi Pangeran Charles!


Dari buku La Rose saya bisa tarik kesimpulan. Seorang istri yang memesona suaminya karena hal berikut ini :

1.    Dia selalu menampakkan rasa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya.
2.    Memiliki kepribadian yang lembut, penuh kasih sayang , dan selalu tersenyum.
3.    Menjadikan suaminya sebagai pujaan hatinya.
4.    Menjadi wanita yang mandiri, namun tetap selalu merasa butuh pertolongan kaum adam.
5.    Menjadi wanita yang dewasa, namun tidak meninggalkan sikap kekanak-kanakan. 
6.    Pandai mengurus dan mengelola rumah tangga dan anak-anaknya.
7.    Jangan merendahkan suami, apalagi di hadapan orang lain.
8.    Suami sangat senang dengan pujian dari istrinya.

Sepertinya masih banyak yang bisa diambil dari buku La Rose ini. Tapi, saya hanya mampu mengingat sedikit saja, dari buku yang + dupuluh tahun yang lalu saya baca.

Sabtu, 08 Desember 2012

Kompetisi Menulis Nusantara



Kemenparekraf bekerjasama dengan NulisBuku.com & Plot Point mengadakan kompetisi menulis Tulis Nusantara 2012 - dengan tema: Menangkap ragam cerita hidup di Indonesia, serta workshop Menulis di 12 Kota di Indonesia.
Kategori penulisan:

    Fiksi Cerpen
    Fiksi Puisi
    Non-Fiksi

Hadiah

Fiksi Cerpen. Juara I: Rp 20.000.000, Juara II: Rp 15.000.000, Juara III: Rp 10.000.000.
Fiksi Puisi. Juara I: Rp 10.000.000, Juara II: Rp 7.500.000, Juara III: Rp 5.000.000.
Non-Fiksi. Juara I: Rp 20.000.000, Juara II: Rp 15.000.000, Juara III: Rp 10.000.000.

3 buku kumpulan fiksi dan non-fiksi hasil kompetisi Tulis Nusantara 2012 akan diterbitkan secara major!

Cara berpartisipasi

Menulis sesuai tema 'Menangkap Ragam Cerita Hidup di Indonesia' dalam bentuk puisi, cerpen (Fiksi) maupun cerita nyata (Non-Fiksi) yang memotivasi pembaca untuk mengetahui lebih banyak tentang keragaman di Indonesia dan mempromosikan baik ke dalam maupun luar negeri.
  
 Untuk cerpen (fiksi) dan cerita nyata (Non-Fiksi), panjang tulisan 5-9 halaman A4 dengan 1,5 spasi,  Font Times New Roman, ukuran 12 pt.

Kirimkan naskah beserta data diri (berupa attach files, bukan di body e-mail): Nama, Alamat, No. handphone, No. KTP, Twitter account (Jika ada), Alamat facebook (Jika ada), ke alamat email: tulisnusantara@gmail.com dengan format subject email: [Kategori] - [Judul tulisan]. Contoh: Non-Fiksi - "Cerita dari Banyuwangi"
   
 Follow & mention akun Twitter @tulisnusantara untuk mempromosikan tulisan yang telah dikirim dengan hashtag #TulisNusantara
   
Periode lomba: mulai dari 17 November 2012 hingga 15 Desember 2012, naskah diterima paling lambat jam 23:59 WIB pada tanggal 15 Desember 2012.
Untuk mengikuti kompetisi ini tidak dipungut biaya, GRATIS!
Pengumuman pemenang & penyerahan hadiah akan dilakukan pada tanggal 22 Desember 2012 (Awarding Night).


Syarat Umum :

  • Peserta adalah warga negara Indonesia
  • Usia peserta dibatasi minimal 17 tahun ke atas sesuai dengan identitas di Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  • Naskah ditulis dengan bahasa Indonesia
  • Naskah harus karya asli (sebagian atau seluruhnya), juga bukan terjemahan atau saduran
  • Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik dan online dan tidak sedang diikutsertakan sayembara lain.
  • Peserta diperbolehkan mengirimkan maksimal 1 naskah terbaiknya untuk setiap kategori.
  • Naskah yang dikirim menjadi milik panitia penyelenggara, dengan hak cipta tetap pada penulis.
  • Hak untuk mempublikasi tulisan ada di penyelenggara kompetisi.
  • Naskah yang tidak sesuai dengan persyaratan tidak akan disertakan dalam proses penjurian.
  • Dewan juri akan memilih 10 naskah terbaik (Juara I, II, III dan 7 nomine) yang akan dibukukan dalam buku antologi pemenang.
  • Penyelenggara kompetisi berhak mengganti judul dan menyunting, tanpa mengubah isi
  • Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat menyurat 

Lomba Nulis Novel Populer Bentang Pustaka "Wanita dalam Cerita"


Lomba Menulis Novel Populer Bentang Pustaka
"Wanita dalam Cerita"

Novel Populer adalah novel dewasa muda yang menceritakan kehidupan kaum dewasa muda dengan berbagai dinamikanya; cinta, keluarga, karir, persahabatan, dan sebagainya.

Ketentuan:

  • Lomba terbuka bagi warga negara Indonesia berusia 18 tahun ke atas.
  • Tema naskah: Wanita dalam cerita. Tidak diperbolehkan mengandung SARA dan pornografi.
  • Naskah merupakan karya asli dan bukan terjemahan atau saduran.
  • Naskah boleh ditulis oleh maksimal 2 orang.
  • Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak atau elektronik, serta tidak sedang    diikutsertakan di lomba lain.
  • Panjang naskah 150-250 halaman A4, diketik dengan font Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5, margin 4, 4, 3, 3. Ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik.
  • Satu peserta boleh mengirimkan maksimal 2 naskah
Kirim naskah disertai:
  • Biodata lengkap (nama, alamat, no hp, email)
  • Fotokopi kartu identitas
  • Profil singkat penulis
  • Keunggulan naskah
  • Sinopsis
   
Naskah dikirim ke:

melalui email
bentang.populer@gmail.com

atau ke:
Redaksi Bentang Populer
Jl. Kalimantan G-9A
Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta


Jangan lupa cantumkan "Lomba Novel" di pojok kiri atas amplop atau di subjek email.
Naskah dikirimkan mulai tanggal 5 November 2012-2Februari 2013.


Hadiah

    Juara 1: Uang tunai Rp.6.000.000 + kontrak penerbitan + paket buku sebesar Rp.700.000
    Juara 2: Uang tunai Rp.4.000.000 + kontrak penerbitan + paket buku sebesar Rp.500.000
    Juara 3: Uang tunai Rp.2.000.000 + kontrak penerbitan + paket buku sebesar Rp.300.000
    5 Pemenang berbakat: kontrak penerbitan + paket buku @Rp.200.000


PENTING!

    Pemenang akan diumumkan melalui facebook, twitter, dan blog
    Peserta lomba tidak dipungut biaya apapun.

sumber : http://pustakabentang.blogspot.com/2012/11/lomba-nulis-novel-populer-bentang.html

Minggu, 02 Desember 2012

I Love To Read

Iqro! Bacalah! 

Begitulah salah satu ayat pertama yang diturunkan oleh Allah.  Makna dari ayat tersebut, kita harus senantiasa membaca dalam kehidupan sehari-hari.  Buku adalah jendela informasi yang akan membuka cakrawala pengetahuan yang luas bagi si pembaca.  Buku akan memberikan kearifan dalam berpikir. Kebijaksanaan dalam bertindak.  Kedewasaan dalam berperilaku serta Kehati-hatian dalam keputusan.

Untuk saat ini buku sangat berlimpah ruah di pasaran. Mau model dan isi apapun pasti ada.  Untuk buku anak-anak, sudah banyak yang dikemas dengan sangat menarik.  Mulai dari cover, lay out, gambar, dan warna-warna yang langsung menarik perhatian anak. 

Ada buku anak yang bisa dibuka-tutup atau bisa ditarik-tarik, dikenal dengan buku “Pop-up”. Kalau dari bahan, ada yang terbuat dari kertas yang tebal sehingga  tidak mudah robek jika dibacakan untuk anak balita.  Bahkan ada yang terbuat dari kain yang dikhususkan untuk bayi. Dari segi isi cerita, banyak buku-buku yang dapat menunjang kecerdasan IQ, EQ, dan SQ anak.  Intinya, banyak peluang untuk orang tua, untuk mendekatkan anaknya dengan buku dan menjadikan buku sebagai sahabat mereka.

Kecintaan kepada buku diciptakan oleh lingkungannya.  Orang tua yang senang membaca, anak-anaknya pun jadi senang membaca. Orang tua yang senangnya belanja atau pergi ke mall-mall, anaknya pun jadi hobi belanja dan pergi ke mall. Pilih yang mana? Membuat anak menjadi pintar atau menjadikan anak menjadi konsumerisme?

Suatu ketika anak saya yang masih berumur 3 tahun diajak tantenya ke mall.  Saya dan suami tidak ikut. Sementara  kakak-kakak sepupunya memilih dibelikan sepatu roda, anak saya justru minta dibelikan buku.  Sampai sekarang buku itu masih suka dibacanya hingga ke adiknya. Sementara, sepatu roda hanya beberapa kali saja dimainkan. Setelah bosan dimainkan, sepatu roda itu kini hanya tergeletak begitu saja.

Ketika anak saya memilih buku dan tidak memilih barang lain, mungkin baginya buku lebih menarik perhatiannya dibandingkan dengan barang-barang lainnya. Apakah ini hanya kebetulan saja? Saya pikir, ini tidak serta merta, pasti ada sebab dan akibat. 
Saya ingin berbagi  pengalaman bagaimana menjadikan buku sebagai sahabat anak saya. Bukan. Bukan berarti saya merasa  sudah berhasil dan berpuas diri. Jauhlah api dari panggang.  Saya hanya sekedar berusaha dan terus berusaha agar anak-anak kami dekat dengan buku dan menjadikan buku sebagai sahabat mereka.


How? 
  • Selama masa kehamilan, saya sering baca buku dengan bersuara.  Apapun yang saya baca, suara  saya keraskan. 
  • Intensitas membaca qur’an lebih diperbanyak lagi. Saya yakin dengan membaca qur’an akan memberikan kenyamanan untuk janin saya. 
  • Saya berusaha menyediakan waktu untuk membacakan buku untuk anak saya. 
  • Membuat perpustakaan mini di rumah atau meminjam buku anak-anak. 
  • Mempunyai waktu khusus untuk kegiatan membaca di keluarga kami.

Mudah-mudahan dapat bermanfaat. Menebar kebaikan dengan berbagi ilmu dan pengalaman.

Bookaholic

 Suatu ketika ada orang tua murid saya cerita.  Anaknya yang masih TK menghadiahkan sebuah komik buatannya sendiri untuk gurunya. 

Kakaknya yang bernama Hani adalah murid saya,  seorang  “Bookaholic”.  Yup, bisa dibilang begitu.  Dia sudah kecanduan sama buku.  Dalam keadaan apapun, di mana pun, dan kapan pun selalu ada buku di tangannya.  Di saat waktu istirahat, Hani lebih asyik membaca buku  dibandingkan bermain dengan teman-temannya.  Saat pekerjaannya selesai, dia selalu minta ijin kepada saya untuk mengambil buku yang ada di perpustakaan kelas.  Katanya, dia suka buku karena koleksi buku-buku di rumahnya sangat banyak.  Tidak heran bagi saya. Kalau ia menjadi seorang  maniak dengan buku.

Kembali pada anak yang menghadiahkan komik pada gurunya.  Anak itu adalah adiknya Hani.  Menurut saya, kebiasaan Hani pasti tidak berbeda jauh dengan adiknya.  Saat adiknya kelas 6 SD. Saya mendapati sebuah novel  yang dikarang oleh adiknya Hani. Novel dengan imajinasi tingkat tinggi. Subhanallah! Kebiasaan membaca mereka telah menelurkan sebuah tulisan yang sangat kreatif.

Lain lagi cerita tentang Dyah. Ia hidup di era belum  tersedianya buku-buku  yang menarik.  Jaman dulu, buku tidak semenarik seperti  sekarang ini.  Buku-buku terbitan Balai Pustaka hanya berisi tulisan tanpa gambar. Tapi, dia begitu mencintai buku.  Untung  guru SD-nya memahami minat baca Dyah. Setiap kunjungan ke perpustakaan sekolah.  Dyah diperbolehkan meminjam 6 buku.   Pohon belimbing  di rumahnya adalah tempat favorit Dyah untuk membaca. Sambil duduk di dahan pohon belimbing yang berayun-ayun. Disertai oleh angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya, Dyah sangat menikmati buku pinjaman dari perpustakaan sekolah.  Jika pohon belimbing sedang berbuah. Sambil baca,   Dyah memetik buah belimbing dan memakannya. Amboi!  Nikmatnya membaca sambil makan buah belimbing dengan ditemani oleh angin-angin nan sejuk.

Dyah tidak seberuntung Hani.  Hani difasilitasi oleh orang tuanya dengan perpustakaan di rumah. Sedangkan Dyah, ia harus mencari  tempat-tempat peminjaman buku.  Seringkali ia harus merogoh kantungnya sendiri  demi mendapatkan pinjaman buku.  Buku apapun di baca. Mulai dari komik Petruk-Gareng , komik Tin-tin, Komik Nina, sampai majalah-majalah dewasa milik ibunya.  Guru SD-nya seringkali memuat tulisan-tulisannya di mading sekolah dan menyertakannya dalam lomba-lomba mengarang.  Begitulah!  Dengan membaca, selalu ada inspirasi yang bisa ditulis olehnya.

Begitu saya pulang dari mengajar.  Anak saya (waktu itu umurnya 2,5 tahun) akan langsung membongkar isi tas.  Dia tahu hari di mana saya meminjam buku dari perpustakaan sekolah.  Sekolah tempat saya mengajar,  kebetulan memiliki  jam kunjungan ke perpustakaan.  Sambil menemani murid-murid berkunjung ke perpustakaan.  Saya gunakan kesempatan itu, untuk membaca dan meminjam buku untuk saya dan anak saya.

“Hari ini, cukup dua saja ya baca bukunya.”
“Jangan bunda, 3 deh… 4 deh… eh 5 deh… dan seterusnya.”
Selalu ada tawar menawar setiap dibacakan buku.  Meskipun merasa lelah setelah seharian bekerja.  Tapi, Saya usahakan untuk membacakan buku untuk anak saya yang pertama.  Tapi begitulah.  Sebelum memulai sudah ribut dengan kesepakatan jumlah buku yang  dibaca.

Ternyata adiknya yang saat ini berumur 2 tahun, tidak jauh berbeda dengan kakaknya.
Pagi-pagi adalah waktu membacakan buku untuk Si Adik.  Satu buku sudah dibaca. Dia mengambil  buku cerita lagi dari perpustakaan mini rumah kami. Dua buku sudah tamat. Dia ambil lagi. Tiga buku sudah rampung. Dia ambil lagi. 4 buku, 5 buku hingga akhirnya 8 buku yang sudah diambil oleh si kecil yang harus saya bacakan untuknya.  Hah! Akhirnya buku-buku selesai saya bacakan.  Akhirnya saya harus kasih pengertian padanya, kalau bunda masih banyak kerjaan rumah. Si kecil manggut-manggut tanda

Stop, Kekerasan pada Anak!

Sedih lihat berita-berita tentang orang tua yang menganiaya anaknya sendiri.  Ada ibu tiri yang menganiaya anak balitanya hingga tewas.  Ada seorang nenek memukuli cucunya, hingga cucunya mengalami luka-luka yang serius dan trauma berat dengan neneknya.  Ada seorang ayah yang memukuli anaknya yang masih kecil dengan membabi buta, hingga anaknya mengalami patah tulang dan cacat permanen.

Melihat kondisi di atas, saya jadi teringat dengan kejadian di angkot. Seorang ibu muda berkali-kali menabok mulut anaknya yang kira-kira usianya masih 3 tahunan.  Tidak puas dengan menabok.  Ibu itu mencubit , memukul, dan menendang anaknya.  Pemandangan ini disaksikan oleh mata saya sendiri .  Semakin anak itu menangis, semakin dihajar oleh ibunya.  Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengutuk perbuatan itu dalam hati.  Saya memandang ibu itu dengan kemarahan yang tidak bisa diungkapkan.  Saya jadi mikir.  Di tempat umum saja,  ibu itu berani melakukan kekerasan pada anaknya. Dan di hadapan orang lain saja, dia tidak sungkan-sungkan untuk memukul anaknya. Apalagi di rumah?

Ada apa gerangan?

Apakah manusia lebih buas daripada harimau? Sebuas- buasnya harimau. Dia tidak akan memakan anaknya sendiri.
Apakah kesulitan hidup ini telah membuat orang-orang dewasa begitu sangat stress, sehingga menjadikan anak sebagai sasaran empuk untuk melampiaskan ketertekanan hidupnya.
Apakah ibu itu mengalami kekerasan oleh suaminya sendiri, hingga akhirnya ia membalas kepada sang anak yang tidak berdosa.
Apakah para orang tua menganggap diri mereka lebih kuat dan berkuasa, sehingga dengan mudahnya menindas anaknya yang masih lemah.

Padahal setiap anak,  tidak pernah minta untuk dilahirkan.  Kedua orang tuanyalah yang mengharapkan kehadiran mereka dalam keluarga. Kehadiran yang selalu dinanti-nantikan oleh setiap pasangan. Namun, ketika Allah telah memberikan karunia berupa anak. Mereka menyia-nyiakan anak-anak yang tidak berdosa itu.
Anak-anak memiliki hak untuk dikasihi, dilindungi, dan mendapatkan rasa aman dalam keluarganya. Jika seorang anak kerap kali mendapatkan kekerasan di keluarganya. Kemana lagi ia akan mencari rasa aman dan perlindungan dalam hidupnya.  Apakah rasa aman dan nyaman menjadi barang yang mahal untuk mereka saat ini?

Setiap perlakuan yang diberikan oleh orang tua, akan ada jejak-jejak rekaman dalam hidup seorang anak.  Anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, cinta dan penghargaan, mereka akan menjadi anak yang berkarakter baik. Sedangkan anak yang dibesarkan dengan kekerasan, ia akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, merasa rendah diri dalam pergaulan, cenderung menjadi pemberontak, dan menjadi  pendendam. Masih mending kalau anak itu hanya bermasalah dalam kepercayaan dirinya. Bagaimana kalau sampai ia menjadi karakter yang kasar dan keras hatinya. 

Jika seorang anak kerap kali dikasari oleh orang tuanya. Kelak, ketika mereka berumah tangga, ia akan memperlakukan hal yang sama kepada anak-anaknya. Jika laki-laki ia akan menjadi suami yang ringan tangan terhadap istrinya. Jika ia perempuan, ia akan berlaku kasar kepada anaknya.  Jadilah ini sebuah lingkaran setan yang tidak berujung. Suami mukul istri. Istri balas ke anak. Anaknya balas lagi ke adiknya. Adiknya balas kepada teman-temannya dan seterusnya. Bayangkan! Jika banyak keluarga yang seperti ini.  Jadilah sebuah masyarakat premanisme.

Anak bagaikan sebuah bibit tanaman. Jika bibit tanaman  terpelihara dengan baik, diberi air, dan pupuk, bibit ini akan menjadi tanaman yang sempurna dan menghasilkan buah yang ranum.   Orang tua tidak hanya tugasnya sekedar melahirkan, memberi makan, dan menyekolahkan.  Namun, ia perlu memberikan pemeliharaan dan pembekalan yang baik untuk anaknya. Bagaimana caranya? Menjadi Role Model yang baik.

Minggu, 25 November 2012

Guru-Guru Inspiratif

Rhenald Kasali mengatakan, dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, yaitu guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer seluruh isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standard (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen populasi guru di seluruh Indonesia. Guru inspiratif jumlahnya sangat terbatas, populasinya kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, melainkan yang mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Kalau guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin pembaru yang berani menghancurkan kebiasaan-kebiasaan lama.

Inilah guru-guru inspiratif :

Ibu Muslimah
Bu   Muslimah, yang   namanya   menjadi  buah  bibir  gara-gara  novel  Laskar Pelangi, buku  terlaris  dalam  sejarah  Indonesia karya  Andrea  Hirata. Ia  adalah  guru  yang  inspiratif  dan berdedikasi tinggi dalam memajukan dunia   pendidikan, membuka   wawasan,   cakrawala  berpikir,  mengobarkan semangat juang dan menyalakan api mimpi-mimpi para siswanya.

Bu Mus sangat peduli, tak  pernah  letih  memotivasi dan piawai membangun rasa percaya diri para  muridnya. Bagi kelompok Laskar Pelangi, Bu Mus adalah anugerah Tuhan yang paling indah dan paling tak terlupakan di muka bumi.

Sebagai   guru   swasta,  Bu  Muslimah  harus  bersabar  menghadapi  kesenjangan fasilitas.  Ia  tak  pernah  mengeluh  hanya  karena  fasilitas terbatas. Ia pun begitu  piawai  mengobarkan  semangat  belajar  para muridnya untuk meraih mimpi tanpa  harus  cengeng dan tak bernyali dengan kondisi sekolah mereka yang sangat memprihatinkan ketika itu.

Ketika  anak-anak  Laskar Pelangi mengeluhkan kondisi kelas yang kerap bocor dan menyusahkan  di  musim  hujan,  Bu  Mus  tidak  menanggapi  keluhan  itu  dengan kata-kata, tapi  dengan  mengeluarkan buku berbahasa Belanda dan memperlihatkan sebuah  gambar  berupa  ruangan sempit, dikelilingi tembok tebal, suram, tinggi, dan  berjeruji.  Kesan  di  dalamnya begitu pengap, angker, penuh kekerasan, dan kesedihan. “Inilah  sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung,” kata Bu Muslimah. “Di sini beliau  menjalani  hukuman  dan  setiap  hari belajar. Setiap saat membaca buku. Beliau  adalah satu orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.” Mulai saat itu,  murid-murid  Laskar Pelangi tak pernah lagi protes tentang kondisi sekolah mereka. Dan luar biasanya seharipun siswa Laskar Pelangi tak pernah bolos.

Bu  Muslimah  menekuni  dunia  pendidikan  bukan  karena  memburu materi, tetapi karena  naluri  peduli  pada  tanggung  jawab  mencerdaskan  anak-anak  bangsa. Pilihannya  untuk  menjadi  guru (pendidik) sudah diawali dengan kesadaran bahwa dunia  itu  bukan  lahan  mengeruk  harta. Dunia itu adalah ajang untuk mendidik anak-anak  bangsa  negeri ini untuk punya mimpi, berani berpikir out of the box, berpikir  yang  orang  lain  tak  memikirkannya  untuk melakukan hal besar dalam rangka mengangkat harkat dan martabat anak muridnya. Hal   penting   lain   yang  perlu  diteladani  dari  Bu  Muslimah  adalah  soal kegigihannya.  Ia pantang menyerah dalam melaksanakan tugasnya. Guyuran derasnya hujan  tak  menyurutkan  langkahnya  untuk  datang ke sekolah. Ia yakin siswanya sedang  menantinya  dengan  penuh  harap  di sekolah. Ia menggunakan daun pisang sebagai pengganti payung untuk melindungi diri dari basah kuyup karena hujan.

Mr. Sosaku Kobayashi

"Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela" adalah sebuah buku yang berkisah tentang gadis kecil yang berumur 7 tahun . Sebagai seorang gadis kecil yang mempunyai  segudang rasa ingin tahu, Totto-chan sering bertingkah laku aneh di sekolah. Mulai dari membuka tutup laci mejanya, hingga memanggil penyanyi jalanan, dan bahkan berdiri berjam-jam di depan jendela selama pelajaran berlangsung untuk berbicara pada burung wallet.

Gurunya tidak tahan lagi dengan tingkah laku Totto-chan dan akhirnya mengeluarkan dirinya dari sekolah. Saat itu Totto-chan masih berada di kelas 1 sehingga ibunya yang bijak memutuskan untuk tidak memberi tahu Totto-chan kalau ia telah dikeluarkan dari sekolah. Sebaliknya, ibu Totto-chan menemukan sebuah sekolah yang sangat cocok dengan anaknya. Nama sekolah itu adalah Tomoe Gakuen.

Ruang kelas Tomoe berupa gerbong kereta api, sehingga para murid serasa bukan sekolah tapi menikmati perjalanan wisata. Kurikulumnya pun unik. Setiap siswa bebas memilih pelajaran yang ingin dipelajarinya lebih dulu pada hari itu. Ada yang memilih membuat puisi, menggambar atau melakukan eksperimen fisika. Kobayashi mengajarkan untuk tidak melihat perbedaan. Murid yang bodoh, miskin atau bahkan cacat adalah bagian dari komunitas, sebuah keluarga Tomoe Gakuen. Semua murid merasa senang sekolah di Tomoe.

Kobayashi memupuk para murid untuk mempunyai rasa percaya diri. Ia merancang perlombaan sedemikian sehingga saat perayaan Hari Olahraga murid yang cacat bisa menang. Ia juga mampu meyakinkan anak-anak bahwa mereka anak yang baik dengan selalu mengucapkan ”Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu kan?”. Untuk bento (bekal makan siang) harus ada ”sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan” agar anak-anak makan dengan gizi seimbang. Kehidupan di Tomoe juga mengajarkan untuk selalu bersikap sopan kepada orang lain.

Ketika mereka belajar bagaimana bunga sawi mekar, mereka mengatakan, ”Ternyata benang sari tidak mirip benang ya?”. Meski disajikan dari sudut pandang Totto-chan sebenarnya buku ini menyiratkan metode pendidikan yang diterapkan Sosaku Kobayashi. Mengajarkan bahwa sekolah bukan sekedar tempat belajar menulis, membaca, berhitung atau bernyanyi. Namun sebagai wadah melejitkan prestasi sesuai dengan potensi dan keahlian masing-masing.

Namun sayangnya sekolah itu tidak dapat bertahan lama, sebuah bom meratakan sekolah itu dengan tanah. Saat itu Perang Pasifik telah pecah, dan pada saat itu sang kepala sekolah, Sosaku Kobayashi, berdiri tegar menatap terbakarnya sekolah yang dibuat dari uang pribadinya sendiri. Ia bahkan bertanya kepada anaknya tentang sekolah seperti apa yang akan ia buat lagi selanjutnya. Meskipun demikian, Tomoe Gakuen akan selalu menjadi kenangan manis dalam hidup  siswa-siswanya,   termasuk Totto-chan. 

Para alumni sekolah Tomoe Gakuen menjadi orang-orang yang hebat. Akira Takahashi menjadi manajer personalia di perusahaan elektronik besar dekat Danau Hamana. Miyo-chan (Miyo Kaneko) seorang putri ketiga Pak Kobayashi menjadi seorang pengajar musik di sekolah dasar.  Sakko Matsuyama (sekarang Mrs. Saito) menajdi instruktur bahasa Inggris di YWCA. Taiji Yamanouchi menjadi salah satu ahli fisika yang ternama. Kunio Oe, seorang ahli anggrek sedangkan Totto chan (Tetsuko Kuroyanagi) menjadi seorang presenter TV paling populer di Jepang yang membawakan Tetsuko’s Room dan ditunjuk UNICEF sebagai duta bagi anak-anak terlantar di seluruh dunia.

Pak Slamet,  Pak Mulyadi, Pak Sukadi, Pak Sudewa dan guru-guru inspiratif lainnya.

"Nak, karanganmu bagus!", kalimat pujian itu diucapkan Guru Slamet ketika salah satu muridnya di kelas 5 selesai membaca karangan sendiri tentang perayaan tujuh belas Agustus. Adakah pengaruh pujian Guru Slamet? Sang murid tersebut mengakui, pujian itu membuatnya percaya diri, membuatnya suka menulis, dan pujian gurunya itu membesarkan hatinya.

Jika di SD bertemu dengan Guru Slamet, ketika beranjak ke sekolah menengah, Guru Mulayadi menjadi sosok penting bagi sang murid tadi. Guru bahasa Indonesia itu beberapa kali membaca puisi atau cerita kecil yang dibuat sang murid dari kelas ke kelas yang diajarnya. Adakah pengaruh kebiasaan Guru Mulyadi? Sang murid mengakui sendiri betapa gurunya memberikan penghargaan, nilai rapor bagus, sekaligus kebanggaan di mata teman-teman seangkatannya. Hal itu membuat sang murid suka menulis terus.

Perjumpaan dengan Guru Sukadi dialami sang murid ketika memasuki perkuliahan. Guru Sukadi mengkritisi pikiran sang murid, menuntun mempertajam tema, mengobrak-abrik cara merumuskan ide  dan menghadirkan antusiasmenya di kelas.  Semasa dengan Guru Sukadi, sang murid bertemu dengan Guru Sudewa yang menyodorkan bacaan dan analisis yang menantang bahaya.

Dua puluh tahun kemudian, murid yang dipuji oleh Guru Slamet itu tumbuh menjadi penulis di koran atau kolomnis. Lima belas tahun kemudian, cerita kecil atau puisi yang dibacakan oleh Guru Mulyadi dari kelas ke kelas telah menjadi tulisan di media yang dibaca oleh khalayak di mana pun. (ST Kartono, Menjadi Guru untuk Muridku)`