Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 September 2017

Nahkoda Cintaku

"Karena engkaulah yang akan menjadi nahkoda dalam mengarungi samudera cinta kita. Untuk itu, aku ingin tetap bersamamu melewati riak-riak air.  Menerjang gelombang yang maha dahsyat,  yang kadangkala bikin perahu layar kita menjadi oleng. Badai pasti akan berlalu. Ombak pasti akan tercerai berai.  Selama layar sakinah tetap terkembang pada perahu layar kita."

Untuk nahkoda cintamu. Pilihlah seorang yang sholeh. Karena laki-laki yang sholeh,  jika ia tidak menyukaimu, ia tidak akan menyakitimu dan ia akan memuliakanmu bak seorang ratu.

Untuk pilihan nahkoda cintamu. Selalu sertakan Allah. Libatkan Allah di setiap desahan nafasmu. Selama engkau masih melibatkan Allah, Dia pasti akan memilihkan laki-laki yang baik untukmu. Kalau menurut Allah saja dia laki-laki yang baik. Apalagi menurut pandangan manusia?

Untuk nahkoda cintamu. Pilihlah yang tahu navigasi jalan. Agar ia segera memutar haluan begitu terlihat karang yang bisa menghantam perahumu.

Bagi yang belum menemukan nahkoda cintamu.   Peluk ia lewat doamu. Bisikan namanya dalam setiap doamu. Kalau dia baik untukmu, pasti Dia yang akan mendekatkannya padamu. Kalau dia tidak baik untukmu, pasti kau akan menjauhinya dengan ringan.

Selamat beristirahat. Selamat melabuh cinta hanya pada-Nya.

#catatanbundatanti2016

Sabtu, 10 November 2012

Puisi untuk Pahlawanku


10 November yang silam Bung Tomo mengobarkan semangat "Merdeka atau Mati"
Berjuang sampai titik darah penghabisan sampai tak bernyawa lagi
Mohammad Toha gugur sebagai pahlawan sejati
Merenggang nyawa pada bandung lautan api

Pejuang muslim berjihad  dengan pekikan takbir
Menunggangi kuda dengan kalimatullah "Allahu Akbar"
Musuh-musuh pahlawanku hatinya bergetar
Menghunuskan pedang sampai musuh terkapar

10 November yang lalu, rakyat bersorak-sorai
Perobekan bendera 3 warna, milik kompeni yang sangat keji
Pahlawanku bergerak serentak membela bumi pertiwi
Mulai dari perang diponegoro sampai perang paderi

Wahai pahlawanku semoga engkau tak bersedih hati
Melihat kelakuan pemimpin sekarang ini
Para perampok berpakaian parlente dan berdasi
Negeri ini populer di seluruh dunia dengan praktek korupsi

Negeri ini kunamakan negeri gradasi
para pejabat pengemban amanat rakyat mobilnya suka gonta-ganti
Sementara rakyatnya cukup puas makan dengan ikan asin dan sambel terasi
Bahkan dengan congkaknya mereka pesiar ke luar negeri

Pahlawanku, janganlah kau bersedih hati
Melihat keadaan pemuda dan pemudi
Pemudanya suka berbuat tawuran mencari mati
Pemudinya sudah berani menjajakan diri
Karena bapak pejabat dengan mudahnya melegalisasi prostitusi

Pahlawanku, jangan engkau bersedih hati
Aku pun sebenarnya ingin segera pergi
Bukanlah berarti aku tak cinta negeri ini
Tapi kebobrokan bangsa sudah di ambang tepi

Pahlawanku, janganlah kau bersedih hati
Para kuruptor dan bandar narkoba bak ladang surga di negeri ini
Bandar narkoba dengan gampangnya dikasih grasi
Sedangkan para koruptor hanya sebentar saja berada di sel besi

Selasa, 30 Oktober 2012

Surat untuk Ayah Bundaku

Ayah... bunda...

Kalian suruh-suruh aku sholat, tapi mengapa engkau sendiri tak menjalankannya?
Kalian bilang... aku harus jujur, tapi mengapa kau suruh aku berbohong mengatakan bahwa dirimu sedang tidak ada di rumah saat temanmu datang?
Kalian panggilkan guru ngaji untukku, mengapa kalian malah menonton televisi dengan volume yang sangat keras. Itu sangat menganggu sekali ayah... bunda...
Kalian pakaikan aku jilbab, tapi mengapa pakaian bunda begitu seksinya...
Kalian perintahkan aku untuk cium tangan kepadamu... tapi ayah... bunda... sering aku melihat  ayah bunda tak melakukan itu kepada nenek dan kakek.
Kalian menasehati aku untuk menghargai orang lain, tapi  mengapa ayah bunda suka marah-marah sama pembantu di rumah?
Kalian suruh aku belajar... belajar dan belajar sampai aku pingin muntah mendengar perintahmu. Tapi mengapa kalian tak pernah belajar menjadi orang tua yang baik...

Ayah... bunda.....

Maafkan kalau aku jadi anak pembangkang
Maafkan aku jika aku hanya melakukan perintahmu  saat kebetulan kau sedang ada di rumah
Maafkan aku kalau  seringkali menggerutu di dalam hati saat diberi nasihat.
Aku tak butuh kata-kata.
Yang aku butuhkan adalah contoh, suri tauladan, uswah dan entahlah isitlah apa lagi.

Ayah...... Bunda.....

Mengapa kau selalu marah padaku kalau nilaiku jelek. Padahal aku sudah belajar dan berusaha menjawab dengan benar.
Mengapa kau suka banding-bandingkan aku dengan saudaraku atau dengan anak teman-teman kalian. Aku adalah aku... aku ga suka kalau ayah bunda membandingkan aku dengan yang lainnya.
Mengapa kemarahanmu langsung meledak untuk kesalahanku yang kecil?. Aku kan masih kecil, wajar bukan kalau aku melakukan kesalahan?
Mengapa aku harus les ini les itu? Aku lelah.... aku cape.... dengan pelajaranku di sekolah. Kepalaku rasanya mau pecah.
Mengapa kau sering pulang larut malam....Begitu sibukkah? sampai melupakan aku anakmu.  Seringkali aku ketiduran menunggu kalian pulang... aku kesepian, aku ingin kalian berdua berada disampingku.
Mengapa pertanyaanmu seputar... sudah belajar belum?... sudah makan belum?... sudah mandi belum?...Padahal aku ingin kau menanyakan tentang aku lebih dari itu.
Mengapa kau sering memaksaku untuk pilihan yang tak ku sukai? Beri aku kesempatan untuk memilih sesuai dengan kata hatiku.
Mengapa kau selalu menganggap aku anak kecil? Lihatlah tubuhku sudah semakin  besar, aku ingin diperlakukan sebagai anak besar.
Mengapa kau seringkali lebih asyik dengan Black Berrymu, berlama-lama di laptopmu, berlama-lama menerima telepon dari temanmu  dibandingkan bermain dengan aku.
Mengapa aku diantar dan dijemput ke sekolah hanya dengan sopir?  Aku iri melihat teman-temanku yang diantar jemput sama orang tuanya.

Ayah... bunda...

Apa yang kalian inginkan di dunia ini?
Aku... materi... atau karir kalian?
Apakah aku  hanya sekedar pelengkap hidup kalian?
Memangnya aku ini robot yang hanya sekedar menjalankan perintah
Aku ingin kau mengerti tentang aku....
Aku ingin perhatian....
Bukan sekedar materi...
Aku ingiin kau sisihkan sedikit saja waktumu untukmu...
Sedikit... tidak banyak..


Ayah.... Bunda

Bisakah?

Serpihan Kasih untuk Anakku



Anakku…

Kau mulai belajar berjalan

Langkah-langkah telapak kaki mu terdengar lucu

Tertatih-tatih kau terus berjalan dan berjalan

Senyummu terus mengembang hilangkan keraguan

Asamu tak pernah padam meskipun kau jatuh bangun

Pernah kau meringis kesakitan karena luka kecil di lututmu

Bunda hanya tersenyum dan berkata, bangun nak.. bangun….

Kedipan matamu menahan air mata tanpa suara

Mengirim sebuah pesan.. mengapa kau tak bantu aku bunda?

Inilah nak.. cara bunda mengajarimu untuk mandiri

Suatu saat nanti, kau akan melihat dunia ini lebih luas daripada yang kau kira

Kau lihat langit bukan hanya luas tanpa batas

Namun langit itu tinggiiii sekali

Ku berikan sayap-sayap kepadamu
Karena tak selamanya bunda ada disampingmu

Senin, 29 Oktober 2012

Makhluk Kecil dalam Perutku

Baru saja kau tohok ulu hatiku
Sekarang kau malah menendangku
Sebenarnya… apa maumu??

Kau balas belaian tanganku dengan hentakkan tanganmu…
Kalau kau mau…
Ayo!! sikut aku dengan tanganmu….

Lama ku tunggu reaksi darimu…
E..e…eeh Kau malah diam seribu bahasa

Sudahlah… aku ingin istirahat sejenak….

Aduh…..
Kini kau tonjok aku dengan hebatnya…
Hampir-hampir aku dibuat limbung olehmu

Kenapa kau tonjok aku???
Untung tidak kena lambungku…

Tapi sayangku….
Aku menikmatinya koq..

Kamu juga senang kan??
Kamu pasti senang dengan permainan yang tadi…
Kamu pasti merasa nyaman di dalam sana…

Bener kan??
Buktinya…
Kamu nangis sekeras-kerasnya…
Waktu kau keluar dari rahimku.