Selasa, 13 November 2012

Bertaubatlah Sebelum Terlambat


Bismillahirrohmanirrohiim.

Muhasabah diri.

saya ini bukan ustadzah apalagi ustadz.
lah..saya ini seorg akhwat.
saya juga ga alim2 amat.
saya cuman mo ngasih nasihat.
buat sahabat dan kerabat.
baik yg jauh maupun yg dekat.
nasihat ini terutama buat saya, yg msh jauh dr taat.

Buat diriku n para sobat...
* yg sholat 5 wktnya suka kelewat-lewat.
* yg slm hidupnya ga pernah sholat.
* yg suka ninggalin sholat jum'at.
* yg merasa jadi murtad.
* yg sukanya numpuk2in harta n emas ampe berkarat-karat.
* yg hartanya dah lewat nisab.
tapi ga mau berzakat.
* yg suka mkn uang rakyat.
* yg suka menyalah gunakan amanat.
* yg ama org suka berkhianat.
* yg suka mkn riba, ngasih utang byrnya berlipat-lipat.
* yg suka main dukun, minta penglaris ama jimat.
* yg suka pake pengasihan biar byk yg terpikat.
* yg durhaka ama ortu n suami, jd kualat.
* yg senangnya berjudi sama mabok2an ampe berkrat-krat.
* yg sukanya tebar pesona, mainin hati akhwat.
* yg ga berhijab sukanya pamer aurat.
* yg kalo disuruh ngaji, bilangnya ga sempat.
* yg mutusin silaturahmi dg kerabat.
* yg ga pernah puasa, bilangnya gak kuat.
* yg gemar berbuat maksiat.

maka ....

sebelum qt masuk unit gawat darurat.
dan dokter bilang riwayatnya udah tamat.
Sblm dtg hari yg maha dahsyat.
Sblm langit digulung & bumi dilipat.
Sblm maut mendekat.
Dan...semuanya tlah terlambat.
SEGERA BERTAUBAT !!

Minggu, 11 November 2012

Indahnya Belajar dari Alam

Teringat waktu masih kanak-kanak, ketika saya duduk di bangku SD. Tanpa saya sadari ternyata alam telah memberikan pelajaran yang sangat berharga buat saya. Waktu SD pelajaran IPA adalah pelajaran yang menyenangkan untuk saya dan teman-teman. Saat pelajaran itu, kami dibawa ke sebuah tanah lapang yang berada di belakang sekolah kami. Daerah ini terlihat masih alami karena banyak ditumbuhi oleh pepohonan, rumput-rumput liar dan tanaman. Pemandangan ini dihiasi dengan warna-warni kupu-kupu yang hilir mudik, belalang yang melompat kesana kemari, kadal yang berlari ketika kami menghampiri serta bunglon yang selalu berubah warna.


Ketika kami belajar tentang ekosistem, guru menyuruh kami untuk mengamati dan mencatat ekosistem hewan yang ada di sana. Begitu pula ketika pada materi metamorfosis hewan, kami kembali diajak untuk mengamati proses metamorfosis kupu-kupu. Permainan ini segera di mulai. Pak guru menyuruh kami mencari kepompong yang ada di sekitar tempat itu. Seperti permainan mencari harta karun, lalu menyebarlah kami mencari sosok kepompong yang dimaksud pak guru. Betapa senangnya kami ketika berhasil menemukan beberapa kepompong. Salah satu teman kami berteriak ada sebuah kepompong yang bergerak-gerak. Kami berlari menghampiri teman tersebut. Benar saja, kepompong tersebut sedikit demi sedikit terbuka hingga akhirnya kulit kepompong tersebut benar-benar robek. Kami bersorak sorai menyaksikan sebuah kupu-kupu yang indah terbang ke udara. Setelah menyaksikan semua itu, pak guru menyuruh kami untuk mencatatnya di buku tulis.

Demikian pula, kejadian si bunglon yang selalu berubah-ubah warna. Ketika bunglon menempel di dahan kayu, dia berwarna coklat, lalu berubah lagi menjadi hijau, ketika berjalan di rerumputan. Kami memanggil pak guru untuk menjelaskan keadaan hewan yang kami temui. Lalu, mulailah pak guru menjelaskan bahwa nama binatang itu adalah bunglon dan dengan cara inilah ia mempertahankan diri dari musuh. Ooohh... dengan serentak saya dan teman-teman mengiyakan perkataan pak guru.

Suatu ketika, kami disuruh pak guru terutama anak laki-laki untuk mencari kecebong. Untuk kegiatan seperti ini, teman laki-laki langsung berlomba mencari kecebong di got depan sekolah. Kami yang perempuan ada yang berteriak-teriak memberikan support ada juga yang merasa jijik. Setelah kecebong berhasil dikumpulkan, mulailah kami bereksperimen. Beberapa kecebong di taruh di toples, kami memperhatikan proses perubahan kecebong menjadi anak katak.

Suatu hari bapak membelikan beberapa ayam kampung sejumlah anak-anaknya. Mulailah kami sebagai si empunya ayam memberikan nama. Tugas kami merawat dan memberinya makan. Kalau ada ayam-ayam kami yang kawin kami mengelilinginya untuk menonton adegan tersebut. Kami senang kalau ada ayam betina yang sudah bertelur. Tanpa rasa jijik, saya memasukan jari ke a**s ayam dengan cara menunggingnya. Senangnya jika jari ini sudah menyentuh benda keras yang kami yakini sebuah telur. Tibalah si induk ayam mengeluarkan telur-telurnya. Induk ayam kami taruh di atas keranjang, yang sudah dilapisi kain bekas. Pluk...pluk.... satu persatu telur keluar. Horeee... kami berteriak.


Kata pak guru, telur dierami induknya selama 21 hari. Ini membuat rasa penasaran saya begitu besar. Setiap pulang sekolah, saya langsung lari menuju kandang ayam. Saya selalu menunggu waktu-waktu si ayam betina mengerami telurnya.  Dengan penasaran saya amati bagaimana induk ayam mengerami telur-telurnya. Si induk ayam mengerami telurnya sambil membolak-balikkan telur-telurnya. Saya tertawa sendiri melihat perilaku hewan yang ada di depan saya. Begitu adilnya si induk ayam, sehingga tidak ada satu pun telur yang terlewati olehnya. Sebuah tanda tanya besar ada di kepala, siapakah yang mengajarkan induk ayam ini. Bagaimana induk ayam tahu, kalau ia sudah 21 hari mengerami telurnya. Ayamkan tidak sekolah? Memangnya ayam bisa berhitung ? Begitulah cara berpikir saya yang masih kanak-kanak. Tepat hari yang ke-21, saya menunggu-nunggu telur-telur itu menetas. Betapa senangnya saya dan kakak-kakak saya begitu melihat satu persatu telur-telur itu mulai bergerak lalu sedikit retak hingga akhirnya menetas dengan sempurna. Dari telur-telur itu, keluarlah anak ayam yang masih basah dengan darah dan belum bisa berdiri.

Kucing-kucing kampung silih berganti datang ke rumah. Setiap kucing yang datang, tidak diusir hingga akhirnya dia mengganggap rumah kami adalah rumahnya. Mulai kucing yang berwarna putih, hitam, belang-belang dan kuning semuanya betah di rumah, padahal kami tidak berniat sama sekali memelihara mereka. Ada satu kucing si belang namanya, kucing itu paling lama jadi penghuni rumah kami. Sejak dia masih muda belia dan sudah beberapa kali melahirkan anak sampai si belang sudah jadi nenek-nenek alias sudah peyot hingga akhirnya si belang mati.

Si belang  kelihatannya lebih menarik daripada kucing-kucing betina lainnya. Dia suka jadi incaran kucing-kucing jantan. Plafon rumah yang berjatuhan sudah tidak terhitung lagi akibat aksi kejar-kejaran mereka. Saya juga sering mengamati adegan kucing lagi kawin sampai saat mereka akan melahirkan. Biasanya, kucing yang mau melahirkan terlihat gelisah dan membolak-balikkan badannya. Begitu tahu kucing belang kesayangan kami akan melahirkan, saya membantu memijat-mijat perut si belang. Setelah beberapa kali kontraksi satu persatu anak kucing lahir. Lucu-lucu dan menggemaskan. Satu persatu si belang menaruh anak-anaknya ke keranjang yang berisi kain-kain bekas. Dia menatap saya penuh arti. Kalau si belang bisa bicara, mungkin dia ingin menyampaikan rasa terima kasihnya kepada saya. Tuh kan, binatang saja tahu cara berterima kasih.

Suatu hari tanpa sengaja, mata saya tertuju pada sarang lebah yang ada di atas kayu-kayu balok yang ditaruh di samping rumah. Saya panggil ibu untuk melihat. Ibu menyuruh anak-anaknya agar tidak mengganggu sarang lebah tersebut. Rasa penasaran saya ternyata mengalahkan pesan yang disampaikan ibu. Dengan jari telunjuk, saya colek madu yang ada di atas sarang, lalu mencicipinya. Hmm.... rasanya manis dan lezat. Besdok dan besok, saya benar-benar lupa pesan ibu untuk tidak menyentuhnya, karena saya sudah ketagihan sama madu gratis ini.

Saya berharap anak-anak juga bisa belajar dari alam. Melihat, mengamati dan menyentuh langsung akan menjadi pelajaran yang lebih menarik dibandingkan hanya sekedar membaca buku atau  hanya dari penjelasan gurunya.

Sabtu, 10 November 2012

Puisi untuk Pahlawanku


10 November yang silam Bung Tomo mengobarkan semangat "Merdeka atau Mati"
Berjuang sampai titik darah penghabisan sampai tak bernyawa lagi
Mohammad Toha gugur sebagai pahlawan sejati
Merenggang nyawa pada bandung lautan api

Pejuang muslim berjihad  dengan pekikan takbir
Menunggangi kuda dengan kalimatullah "Allahu Akbar"
Musuh-musuh pahlawanku hatinya bergetar
Menghunuskan pedang sampai musuh terkapar

10 November yang lalu, rakyat bersorak-sorai
Perobekan bendera 3 warna, milik kompeni yang sangat keji
Pahlawanku bergerak serentak membela bumi pertiwi
Mulai dari perang diponegoro sampai perang paderi

Wahai pahlawanku semoga engkau tak bersedih hati
Melihat kelakuan pemimpin sekarang ini
Para perampok berpakaian parlente dan berdasi
Negeri ini populer di seluruh dunia dengan praktek korupsi

Negeri ini kunamakan negeri gradasi
para pejabat pengemban amanat rakyat mobilnya suka gonta-ganti
Sementara rakyatnya cukup puas makan dengan ikan asin dan sambel terasi
Bahkan dengan congkaknya mereka pesiar ke luar negeri

Pahlawanku, janganlah kau bersedih hati
Melihat keadaan pemuda dan pemudi
Pemudanya suka berbuat tawuran mencari mati
Pemudinya sudah berani menjajakan diri
Karena bapak pejabat dengan mudahnya melegalisasi prostitusi

Pahlawanku, jangan engkau bersedih hati
Aku pun sebenarnya ingin segera pergi
Bukanlah berarti aku tak cinta negeri ini
Tapi kebobrokan bangsa sudah di ambang tepi

Pahlawanku, janganlah kau bersedih hati
Para kuruptor dan bandar narkoba bak ladang surga di negeri ini
Bandar narkoba dengan gampangnya dikasih grasi
Sedangkan para koruptor hanya sebentar saja berada di sel besi

Jumat, 09 November 2012

Aku Bangga jadi Ibu Rumah Tangga

 Syair Kehidupan


Aku bangga jadi ibu rumah tangga
Karena ini profesi yang paling mulia
SKnya langsung di tandatangani oleh Alloh Ta'ala
Digaji oleh Alloh berupa pahala


Profesi ini harus punya keahlian yang luar biasa
Mendidik dan mengasuh anak yang paling utama
Harus pintar  memanage waktunya
Harus punya tabungan kesabaran yang cukup ekstra


Aku bangga jadi ibu rumah tangga

Jadi koki untuk keluarga
Memasak setiap hari untuk anak dan suami tercinta
Memilih menu  yang bergizi untuk keluarga

Aku bangga jadi ibu rumah tangga
Meskipun jam kerja tidak ada batasnya
Pagi buta sudah bangun yang pertama
Tidurnya paling terakhir, jika mereka sudah tidur semua
 
Aku bangga jadi ibu rumah tangga
Walaupun tidak bisa ke salon buat mempercantik dirinya
Karena uangnya buat sekolah anaknya
Demi cita-cita sang anak yang dicintainya
 
Aku bangga jadi ibu rumah tangga
Biarpun pekerjaan tidak ada habis-habisnya 
Alhamdulillah  suami  selalu membantu istrinya
Mudah-mudahan semua ini ada ganjarannya
 
Aku bangga jadi ibu rumah tangga
Tidak usah minder cuman jadi ibu rumah tangga
Jika kau ikhlas balasannya pasti surga
Ayo, ibu-ibu tersenyum dan katakan aku bangga jadi ibu rumah tangga

Untuk suami-suami, jangan malu punya istri hanya ibu rumah tangga
Ucapkan rasa terima kasih atas segala jerih payahnya
Bahkan istrimu harus menanggalkan gelar sarjananya
Karena ia tak rela anakmu dibesarkan oleh pembantu rumah tangga

Gerimis di Sabtu Pagi

Syair Jenaka

Gerimis di sabtu pagi
Pinginnya tidur lagi

Tapi saya harus segera pergi
Pergi ke pasar membeli ragi

Ke pasar ikan, baunya amis
Yang jual banyak yang berkumis
Harganya sih beda-beda tipis
Tapi saya pilih, yang ngasih jeruk nipis

Para pedagang pasang harga tinggi
Saya pun nawar gak mau rugi
Si abang tersenyum kelihatan gigi
Ternyata oh sungguh ternyata, si abang belum sikat gigi

Ada pedagang bawa-bawa keris
Dijadikannya buat penglaris
Senangnya yang berbau-bau mistis
Percayanya sama dukun yang berkudis

Ini pasar namanya pasar perigi
Lihat pesulap yang lagi unjuk gigi
Makin lama orang-orang pada pergi
Akhirnya dia pergi ke Semanggi

Ke pasar aja koq pake baju modis
Yang liatnya jadi pada sinis
Ternyata dia bukan seorang gadis
Karena ia istri masinis

Kisah Ammar dan Sekar


Syair Kehidupan


Ammar seorang lak-laki yang berbadan kekar
Dia mendambakan seorang wanita yang penyabar
Lalu Ammar minta kepada ustadz Umar
Untuk jadi mak comblang antara dirinya dengan si Sekar

Di sebuah mushalla di padang yang datar
Berta'aruflah Ammar dengan si Sekar
Ditemani oleh ustadzah Hani dan ustadz Umar
Bertemunya mereka cuman sebentar

Si Ammar datang bukan untuk wakuncar
Seperti orang-orang muda yang punya pacar
Tapi dia datang untuk melamar
Cinta bersemi bak bunga yang sedang mekar

Di jambangan ada bunga mawar
Di dalamnya diisi air tawar
Setelah mengajukan sebuah mahar
Pulanglah Ammar diantar Sekar sampai luar pagar

Sungguh Ammar laki-laki yang pintar
Memilih gadis muda yang masih segar
Kebahagian mereka saling terpancar
Dengan cincin kawin yang sudah melingkar

Si Ammar pulang kerja hampir terkapar
Disambut istri dengan wajah berbinar-binar
Hilangnya semua rasa lelah dan lapar
Karena dipijat Sekar di dalam kamar

Si Sekar rajin ibadah, kecantikannya tak pernah pudar
Kepada suami tak pernah kurang ajar
Kepada anak berlaku kasih dan tak pernah kasar
Jadilah mereka anak yang shaleh dan pintar

Halilintar terdengar menggelegar
Menghibur anaknya tak boleh gentar
Mendengar ayat-ayat Allah hati bergetar
Berharap keimanan tak pernah pudar

Perekonomian mereka sedang sukar
Sekar selalu qonaah dan berusaha tegar
Karena Alloh bersama orang yang sabar
Dan dijadikannya ini bahan buat belajar

Suatu hari Ammar berkelakar
Saat bercermin barulah ia sadar
Badan yang dulu langsing kini sedikit melar
Wajah yang oval kini terlihat bundar

Janganlah Wahai suami membuat makar
Agar tak ada amarah yang terbakar
Cinta ini harus tetap mekar
Agar semakin kuat seperti akar

Sabtu, 03 November 2012

Kisah Seorang Gadis yang Bernama Murung Beruntung

Syair Agama


Sepanjang hari langit terlihat mendung
Terdengar seorang gadis sedang bersenandung
Duduk ia seorang diri sambil merenung
Tentang dirinya yang sedang mengandung

Wajahnya sedih dan terlihat murung
Ditinggal pacarnya yang tak tau diuntung
Sekarang keluarganya ikut menanggung
Rasa malu tak tanggung-tanggung

Tahu anaknya sedang mengandung
Ayahnya meninggal terserang jantung
Menangislah ia meraung-raung
Penyesalan tak pernah berujung

Keluarga gadis kini berkabung
Melihat ayahnya sedang diusung
Menuju pemakaman umum yang ada di Parung
Bersiap diri amalnya dihitung

Si gadis semakin bingung
Ia berjalan terhuyung-huyung
Hampir saja ia tersandung
Menahan tubuhnya yang sedang limbung

Kini tibalah si gadis di pondok betung.
Dilihatnya pohon ingin leher digantung.
Jika tak ingat amalan dunia pasti di hitung.
Matilah ia bersama anak yang dikandung.

Si gadis sungguh beruntung.
Maut tak jadi berkunjung.
Kalaulah jadi ia berkunjung.
Mungkin jasad si gadis sudah banyak belatung.

Si gadis bertaubat lalu berkerudung.
Dijualnya seuntai kalung.
Untuk dibelikan baju berkurung.
Hanya kepada Allohlah Ia berlindung.

Harapan dan doa tleah ia gantung.
Hanya pada Alloh ia bergantung.
Tak ingin ia seperti katak dalam tempurung.
Miskin agama hidupnya jadi terkungkung.

Sekarang Ia mengaji di Pondok Pucung.
Punya kenalan juragan sarung.
Si juragan punya anak sulung.
Laki-laki sholeh berhidung mancung.

Juragan sarung datang berkunjung.
Mau melamar anaknya dengan gadis yang sedang beruntung.
Dibawakannya kerang berkarung-karung.
Disajikan oleh si gadis pakai nasi dan cah kangkung.

Hei kawan, ini bukan kabar burung.
Si gadis menikah bermaharkan gelang dan kalung.
Sungguhlah kalian akan beruntung.
Jika Alloh, satu-satunya tempat bergantung


# Mudah-mudahan ada manfaatnya. Yang mau copas silakan, asalkan tulis sumbernya ya..