Sabtu, 10 November 2012

Puisi untuk Pahlawanku


10 November yang silam Bung Tomo mengobarkan semangat "Merdeka atau Mati"
Berjuang sampai titik darah penghabisan sampai tak bernyawa lagi
Mohammad Toha gugur sebagai pahlawan sejati
Merenggang nyawa pada bandung lautan api

Pejuang muslim berjihad  dengan pekikan takbir
Menunggangi kuda dengan kalimatullah "Allahu Akbar"
Musuh-musuh pahlawanku hatinya bergetar
Menghunuskan pedang sampai musuh terkapar

10 November yang lalu, rakyat bersorak-sorai
Perobekan bendera 3 warna, milik kompeni yang sangat keji
Pahlawanku bergerak serentak membela bumi pertiwi
Mulai dari perang diponegoro sampai perang paderi

Wahai pahlawanku semoga engkau tak bersedih hati
Melihat kelakuan pemimpin sekarang ini
Para perampok berpakaian parlente dan berdasi
Negeri ini populer di seluruh dunia dengan praktek korupsi

Negeri ini kunamakan negeri gradasi
para pejabat pengemban amanat rakyat mobilnya suka gonta-ganti
Sementara rakyatnya cukup puas makan dengan ikan asin dan sambel terasi
Bahkan dengan congkaknya mereka pesiar ke luar negeri

Pahlawanku, janganlah kau bersedih hati
Melihat keadaan pemuda dan pemudi
Pemudanya suka berbuat tawuran mencari mati
Pemudinya sudah berani menjajakan diri
Karena bapak pejabat dengan mudahnya melegalisasi prostitusi

Pahlawanku, jangan engkau bersedih hati
Aku pun sebenarnya ingin segera pergi
Bukanlah berarti aku tak cinta negeri ini
Tapi kebobrokan bangsa sudah di ambang tepi

Pahlawanku, janganlah kau bersedih hati
Para kuruptor dan bandar narkoba bak ladang surga di negeri ini
Bandar narkoba dengan gampangnya dikasih grasi
Sedangkan para koruptor hanya sebentar saja berada di sel besi

Jumat, 09 November 2012

Aku Bangga jadi Ibu Rumah Tangga

 Syair Kehidupan


Aku bangga jadi ibu rumah tangga
Karena ini profesi yang paling mulia
SKnya langsung di tandatangani oleh Alloh Ta'ala
Digaji oleh Alloh berupa pahala


Profesi ini harus punya keahlian yang luar biasa
Mendidik dan mengasuh anak yang paling utama
Harus pintar  memanage waktunya
Harus punya tabungan kesabaran yang cukup ekstra


Aku bangga jadi ibu rumah tangga

Jadi koki untuk keluarga
Memasak setiap hari untuk anak dan suami tercinta
Memilih menu  yang bergizi untuk keluarga

Aku bangga jadi ibu rumah tangga
Meskipun jam kerja tidak ada batasnya
Pagi buta sudah bangun yang pertama
Tidurnya paling terakhir, jika mereka sudah tidur semua
 
Aku bangga jadi ibu rumah tangga
Walaupun tidak bisa ke salon buat mempercantik dirinya
Karena uangnya buat sekolah anaknya
Demi cita-cita sang anak yang dicintainya
 
Aku bangga jadi ibu rumah tangga
Biarpun pekerjaan tidak ada habis-habisnya 
Alhamdulillah  suami  selalu membantu istrinya
Mudah-mudahan semua ini ada ganjarannya
 
Aku bangga jadi ibu rumah tangga
Tidak usah minder cuman jadi ibu rumah tangga
Jika kau ikhlas balasannya pasti surga
Ayo, ibu-ibu tersenyum dan katakan aku bangga jadi ibu rumah tangga

Untuk suami-suami, jangan malu punya istri hanya ibu rumah tangga
Ucapkan rasa terima kasih atas segala jerih payahnya
Bahkan istrimu harus menanggalkan gelar sarjananya
Karena ia tak rela anakmu dibesarkan oleh pembantu rumah tangga

Gerimis di Sabtu Pagi

Syair Jenaka

Gerimis di sabtu pagi
Pinginnya tidur lagi

Tapi saya harus segera pergi
Pergi ke pasar membeli ragi

Ke pasar ikan, baunya amis
Yang jual banyak yang berkumis
Harganya sih beda-beda tipis
Tapi saya pilih, yang ngasih jeruk nipis

Para pedagang pasang harga tinggi
Saya pun nawar gak mau rugi
Si abang tersenyum kelihatan gigi
Ternyata oh sungguh ternyata, si abang belum sikat gigi

Ada pedagang bawa-bawa keris
Dijadikannya buat penglaris
Senangnya yang berbau-bau mistis
Percayanya sama dukun yang berkudis

Ini pasar namanya pasar perigi
Lihat pesulap yang lagi unjuk gigi
Makin lama orang-orang pada pergi
Akhirnya dia pergi ke Semanggi

Ke pasar aja koq pake baju modis
Yang liatnya jadi pada sinis
Ternyata dia bukan seorang gadis
Karena ia istri masinis

Kisah Ammar dan Sekar


Syair Kehidupan


Ammar seorang lak-laki yang berbadan kekar
Dia mendambakan seorang wanita yang penyabar
Lalu Ammar minta kepada ustadz Umar
Untuk jadi mak comblang antara dirinya dengan si Sekar

Di sebuah mushalla di padang yang datar
Berta'aruflah Ammar dengan si Sekar
Ditemani oleh ustadzah Hani dan ustadz Umar
Bertemunya mereka cuman sebentar

Si Ammar datang bukan untuk wakuncar
Seperti orang-orang muda yang punya pacar
Tapi dia datang untuk melamar
Cinta bersemi bak bunga yang sedang mekar

Di jambangan ada bunga mawar
Di dalamnya diisi air tawar
Setelah mengajukan sebuah mahar
Pulanglah Ammar diantar Sekar sampai luar pagar

Sungguh Ammar laki-laki yang pintar
Memilih gadis muda yang masih segar
Kebahagian mereka saling terpancar
Dengan cincin kawin yang sudah melingkar

Si Ammar pulang kerja hampir terkapar
Disambut istri dengan wajah berbinar-binar
Hilangnya semua rasa lelah dan lapar
Karena dipijat Sekar di dalam kamar

Si Sekar rajin ibadah, kecantikannya tak pernah pudar
Kepada suami tak pernah kurang ajar
Kepada anak berlaku kasih dan tak pernah kasar
Jadilah mereka anak yang shaleh dan pintar

Halilintar terdengar menggelegar
Menghibur anaknya tak boleh gentar
Mendengar ayat-ayat Allah hati bergetar
Berharap keimanan tak pernah pudar

Perekonomian mereka sedang sukar
Sekar selalu qonaah dan berusaha tegar
Karena Alloh bersama orang yang sabar
Dan dijadikannya ini bahan buat belajar

Suatu hari Ammar berkelakar
Saat bercermin barulah ia sadar
Badan yang dulu langsing kini sedikit melar
Wajah yang oval kini terlihat bundar

Janganlah Wahai suami membuat makar
Agar tak ada amarah yang terbakar
Cinta ini harus tetap mekar
Agar semakin kuat seperti akar

Sabtu, 03 November 2012

Kisah Seorang Gadis yang Bernama Murung Beruntung

Syair Agama


Sepanjang hari langit terlihat mendung
Terdengar seorang gadis sedang bersenandung
Duduk ia seorang diri sambil merenung
Tentang dirinya yang sedang mengandung

Wajahnya sedih dan terlihat murung
Ditinggal pacarnya yang tak tau diuntung
Sekarang keluarganya ikut menanggung
Rasa malu tak tanggung-tanggung

Tahu anaknya sedang mengandung
Ayahnya meninggal terserang jantung
Menangislah ia meraung-raung
Penyesalan tak pernah berujung

Keluarga gadis kini berkabung
Melihat ayahnya sedang diusung
Menuju pemakaman umum yang ada di Parung
Bersiap diri amalnya dihitung

Si gadis semakin bingung
Ia berjalan terhuyung-huyung
Hampir saja ia tersandung
Menahan tubuhnya yang sedang limbung

Kini tibalah si gadis di pondok betung.
Dilihatnya pohon ingin leher digantung.
Jika tak ingat amalan dunia pasti di hitung.
Matilah ia bersama anak yang dikandung.

Si gadis sungguh beruntung.
Maut tak jadi berkunjung.
Kalaulah jadi ia berkunjung.
Mungkin jasad si gadis sudah banyak belatung.

Si gadis bertaubat lalu berkerudung.
Dijualnya seuntai kalung.
Untuk dibelikan baju berkurung.
Hanya kepada Allohlah Ia berlindung.

Harapan dan doa tleah ia gantung.
Hanya pada Alloh ia bergantung.
Tak ingin ia seperti katak dalam tempurung.
Miskin agama hidupnya jadi terkungkung.

Sekarang Ia mengaji di Pondok Pucung.
Punya kenalan juragan sarung.
Si juragan punya anak sulung.
Laki-laki sholeh berhidung mancung.

Juragan sarung datang berkunjung.
Mau melamar anaknya dengan gadis yang sedang beruntung.
Dibawakannya kerang berkarung-karung.
Disajikan oleh si gadis pakai nasi dan cah kangkung.

Hei kawan, ini bukan kabar burung.
Si gadis menikah bermaharkan gelang dan kalung.
Sungguhlah kalian akan beruntung.
Jika Alloh, satu-satunya tempat bergantung


# Mudah-mudahan ada manfaatnya. Yang mau copas silakan, asalkan tulis sumbernya ya..

Rabu, 31 Oktober 2012

Apa yang Diceritakan Anak-anak Kita di Belakang Kita


Saudaraku..

Abdullah bin Ahmad rahimahullah pernah menceritakan perihal ayahnya (Imam Ahmad):
“Ayahku terbiasa membaca sepertujuh al Qur’an setiap hari. Ia mengkhatamkan al Qur’an setiap tujuh hari. Dan iapun mengkhatamkan al Qur’an setiap tujuh malam. Ia mengakhirkan shalat Isya’, lalu ia tidur beberapa saat. Lalu bangun dan shalat malam hingga menjelang subuh. Selepas shalat subuh, ia berdo’a panjang. Setiap hari ia melaksanakan shalat sunnah sebanyak 300 raka’at. Setelah usianya uzur, dan ia rasakan tubuhnya mulai melemah, maka ia kurangi separuhnya. Di mana ia shalat sunnah sebanyak 150 raka’at sehari.”
(Mi’ah kisah min qashashi ash shalihin, Muh bin Hamid Abdul Wahhab).
 
Saudaraku..
Itulah profil orang tua yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bukan hanya teladan dalam meriwayatkan hadits dan membekali diri dengan ilmu. Tapi juga teladan bagi anak-anaknya dalam ibadah dan mengukir prestasi ubudiyah di hadapan-Nya.

Dari penuturan putera Imam Ahmad ini, dapat kita petik beberapa buah pelajaran dan manfaat darinya.
• Imam Ahmad, termasuk salah seorang ulama yang mampu mewariskan keshalihan pribadi dan ilmu pengetahuan terhadap anak-anak dan generasi sesudahnya. Dan hal ini yang jarang kita temukan pada ulama di zaman ini.
• Tarbiyah (pendidikan) anak yang dilakukan orang tua dengan keteladanan, memiliki dampak yang besar dan pengaruh yang terang dan membekas di hati anak-anaknya.
• Diminta atau tidak. Kita sukai atau tidak. Sepengetahuan kita atau tidak. Di masa hidup kita atau sepeninggal kita. Pasti anak-anak kita akan menceritakan kepada orang lain tentang siapa kita di matanya. Baik dari sisi positif maupun dari sisi negatifnya.
• Imam Ahmad adalah merupakan tipe orang tua yang sangat dicintai dan dibanggakan oleh anak-anaknya. Berbeda dengan kita. Barang kali mereka lebih mengenal kita dari kepribadian tercela; pelit, malas ibadah, tak mampu meredam emosi dan yang senada dengan itu.
• Kelebihan yang dimiliki oleh Imam Ahmad, mampu mengkhatamkan al Qur’an setiap tujuh hari dan setiap tujuh malam serta mampu melakukan shalat sunnah sebanyak 150 sampai 300 raka’at dalam sehari, merupakan karamah yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih dan dicintai-Nya. Yang tak mungkin dilakukan oleh kita yang jauh di bawahnya dari kwalitas iman dan ubudiyahnya.
• Karamah, bukanlah seperti yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin, seperti kemampuan seseorang untuk melakukan shalat Jum’at di masjidil haram. Berlari di atas air. Terbang di udara. Memiliki kemampuan untuk meramal nasib seseorang dan seterusnya. Karena hal itu semua termasuk dalam katagori sihir. Karena diperoleh dengan jalan menjauhi berbagai aturan dan syari’at agama. Berbeda dengan karamah, yang tidak bisa diraih terkecuali dengan taqarrub kepada Allah swt.
• Berdekatan dengan kalamullah dan shalat malam serta do’a merupakan amalan istimewa di hadapan Allah. Yang dengannya Dia mencintai kita dan mengelompokkan kita menjadi ahlullah dan hamba-hamba khusus-Nya.

Saudaraku..
Bagaimana pendapat kita, apa yang selama ini dan akan dibicarakan anak-anak kita di belakang kita? Apakah mereka menceritakan kebaikan dan keteladanan kita dalam keluarga? Atau justru sebaliknya, menceritakan keburukan dan sisi-sisi gelap kehidupan kita dalam keluarga. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh : Ustadz Abu Ja'far

Selasa, 30 Oktober 2012

Belajar dari Mbah Pur ( tetap bersemangat melakukan amal kebaikan meskipun telah lanjut usia))

Mbah Pur, begitulah aku biasa menyebut tetangga sebelahku ini. Seorang janda yang berprofesi sebagai tukang urut yang sudah lanjut usia. Di usianya yang telah  senja,  dia harus menjalani hidupnya dengan kesendirian dan kesepian. Tak ada anak dan cucu yang menemaninya. Hanya sesekali saja anak dan cucunya datang menengok mbah Pur. Entahlah, apa yang menjadi alasan anak-anaknya untuk tidak menemani ibu mereka yang sudah tua.

Mbah Pur pernah cerita kepadaku ia pernah mengalami kecelakaan motor saat diboncengi anaknya. Akibat kecelakaan itu, beberapa giginya harus tanggal dan punggungnya sering merasa sakit. Sejak kecelakaan itu, ditambah dengan usia yang telah tua, ia tidak dapat lagi berjalan dengan tegak. Jalannya harus membungkuk dan pelan-pelan.

Sebenarnya, hubunganku dengan mbah Pur tidak  terlalu istimewa. Kami  hanya sesekali saja saling bertegur sapa di saat aku bertemu dengannya di jalan atau di depan rumahnya. Ia biasa menyapa diriku dengan sebutan De Guru atau Jeng. Bahkan sampai saat ini, ia tidak pernah tahu namaku. Mengenal dirinya aku jadi banyak belajar tentang arti kehidupan. Banyak kesan dan cerita tentang mbah Pur.

Mbah Pur Menengok Aku di Rumah Sakit

Suatu hari, aku dirawat di rumah sakit karena terkena typus dan demam berdarah. Tak ada tetangga yang kuberitahu mengenai sakitku ini. Tapi, meskipun aku berusaha menutupinya, akhirnya tetangga-tetanggaku banyak yang tahu dan mereka pun menengok aku, termasuk mbah Pur.

Saat aku ingin beranjak dari tempat tidur dan bermaksud ke kamar mandi. Di luar terdengar suara ribut-ribut."Mbah mau menengok siapa mbah...." suara satpam perempuan. "Saya mau menengok De guru..... saya sudah muter-muter nyari kamarnya, sudah nyari di lantai bawah sampai atas belum ketemu juga..."

Suara itu sepertinya sangat aku kenal. Langsung aku turun dari tempat tidur dan berteriak, "saya...itu saya yang dicari...!" Aku tergopoh-gopoh membawa kantung infusku dan menghambur keluar kamar.

"Oalaaaa.... ditanya nama pasiennya, si mbah cuman bilang De Guru, saya jadi bingung mau bantunya..." satpam itu tertawa terkekeh-kekeh. "Makasiih ya nak sudah bantu mbah..." Mbah pur melambaikan tangannya. "Terima kasih ya bu sudah mengantarkan tetangga saya..." Saya tersenyum kepada satpam rumah sakit. "Bukan tetangga.... tapi saudara..." Mbah Pur langsung menyambar omonganku yang terakhir. Terkesima aku dengan ucapan mbah Pur yang tadi. Aku jadi merasa malu, ia menganggap diriku sebagai saudaranya.

Ku cium punggung tangan mbah Pur dan memegang erat tangannya. Ia memberikan bungkusan plastik yang berisi jeruk mandarin. Dengan keadaan ekonominya yang pas-pasan, mbah Pur masih saja merelakan sebagian uangnya untuk membawakan buah tangan. Setelah mengucapkan terima kasih atas bawaannya, aku bertanya pada mbah Pur bagaimana ceritanya ia bisa sampai ke sini.

Aku sangat terharu dengan cerita mbah Pur.  Tak terasa, setitik air mata jatuh ke permukaan wajahku. Seorang mbah Pur, yang untuk berjalan saja harus merasa kesulitan masih menyempatkan waktu untuk menengokku. Sesampai di rumah sakit, ia harus naik dan turun tangga untuk mencari kamarku, mencariku hanya bermodalkan nama De Guru.

Sementara aku, yang masih muda dan yang masih kuat dan sehat. Menyempatkan waktu untuk menengok teman dan saudara-saudaraku yang sakit rasanya sangat sulit sekali. Begitu banyak pekerjaan yang harus kukerjakan sampai-sampai tak ada waktu yang tersisa untuk melakukan amal kebaikan yang satu ini. Padahal banyak keutamaan ketika seseorang menengok saudaranya.

Rasulullah  bersabda:

“Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga.” (HR Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadits hasan.”)
 Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa menjenguk orang sakit maka berserulah seorang penyeru dari langit (malaikat), ‘Bagus engkau, bagus perjalananmu, dan engkau telah mempersiapkan tempat tinggal di dalam surga.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat, ‘Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Orang itu bertanya, ‘Oh Tuhan, bagaimana aku harus menjengukMu sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya?Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu menjenguknya pasti kamu dapati Aku di sisinya?’ ‘Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi tidak kamu beri Aku makan.’ Orang itu menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimana aku memberi makan Engkau, sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan meminta makan kepadamu, tetapi tidak kauberi makan? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu beri makan dia niscaya kamu dapati hal itu di sisiKu?’ ‘Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum.’ Orang itu bertanya, ‘Ya Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?’Allah menjawab, ‘Hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum. Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu memberinya minum niscaya akan kamu dapati (balasannya) itu di sisi-Ku?”

Kecintaan Mbah Pur dengan Masjid

Sepengetahuan saya, hampir setiap hari Mbah Pur tidak pernah melewati waktu sholatnya di masjid. Seperti hari-hari biasanya, azan sholat belum berkumandang, Mbah Pur berjalan dengan susah payah. Sambil mengepit mukena dan tanpa tongkat di tangannya, mbah Pur berjalan dengan sangat pelan. Beberapa kali ia harus berhenti sejenak, mengatur nafasnya atau mempersilakan orang yang dibelakangnya untuk berjalan. "Silakan De Guru.... jalannya mbah mah kaya kura-kura.... lamaaa...." Begitulah kelakar mbah Pur saat motor kami berhenti di belakangnya. Dengan keterbatasan fisiknya, tidak membuat halangan mbah Pur untuk sholat berjamaah dan mengikuti pengajian ibu-ibu di masjid.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Jangan kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah dari shalat di masjid-masjid-Nya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 442)

Dalam riwayat Abu Dawud (no. 480) ada tambahan:
“meskipun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 576 dan dalam Al-Misykat no. 1062)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdanya:
“Shalat seseorang dengan berjamaah dilipat gandakan sebanyak 25 kali lipat bila dibandingkan shalatnya di rumahnya atau di pasar. Hal itu dia peroleh dengan berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia keluar menuju masjid dan tidak ada yang mengeluarkan dia kecuali semata untuk shalat. Maka tidaklah ia melangkah dengan satu langkah melainkan diangkat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan. Tatkala ia shalat, para malaikat terus menerus mendoakannya selama ia masih berada di tempat shalatnya dengan doa: “Ya Allah, berilah shalawat atasnya. Ya Allah, rahmatilah dia.” Terus menerus salah seorang dari kalian teranggap dalam keadaan shalat selama ia menanti shalat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 647 dan Muslim no. 649)

Mbah Pur Pergi Pergi Ke Yogyakarta saat Bencana Gunung Merapi Meletus


Umi pengasuh anakku cerita  tentang kepergian mbah Pur ke Yogyakarta. Semua masukan dan nasihat orang-orang di lingkungan rumahku untuk menghentikan niat mbah Pur pergi ke sana tak dihiraukan olehnya. Mbah Pur tetap bertekad pergi ke Yogyakarta, padahal saat itu keadaan Yogyakarta sedang tidak aman akibat letusan Gunung Merapi.  Dengan mencarter angkot dan membawa beberapa bungkusan berisi baju mbah Pur akhirnya pergi juga ke Yogyakarta. Niatnya sungguh mulia, membantu saudara-saudaranya di sana dan memberikan bantuan pakaian buat saudara-saudaranya yang membutuhkan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya. Siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, pasti Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Apabila berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya, niscaya mereka akan diliputi sakinah (ketenangan), diliputi rahmat, dan dinaungi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya. Siapa yang lambat amalannya, maka tidak akan dipercepat kenaikan derajatnya”.

Perpisahan Aku dengan Mbah Pur


Dengan aku telah memiliki rumah baru, aku harus meninggalkan lingkungan rumah yang meninggalkan kenangan indah dan para tetangga yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Sungguh indah memiliki tetangga yang baik-baik dan penuh perhatian pada kita, semua kenangan dengan mereka terukir indah dalam ingatanku. Aku berpamitan dengan para tetangga. Ada kesedihan di wajahku dan di wajah mereka. Begitupula dengan mbah Pur, Saat kami berpamitan, mbah Pur memelukku lama sekali. Mata tuanya terlihat berkaca-kaca. "De Guru.... selama 4 tahun jadi tetangga, tidak pernah saya merasa disakiti.... Mudah-mudahan rumah tangga De Guru adem ayem, semuanya selalu sehat dan mendapat perlindungan dari Alloh..." Begitu panjang doa yang diberikan untukku. Doa yang sangat tulus dari seorang Mbah Pur.